Basmalah

Basmalah

Widget

silahkan tempatkan kode iklan atau banner atau teks atau apalah terserah kamu disini yah

Selasa, 10 Januari 2012

Islam dan Ucapan Selamat



Bismillahirrohmaanirrahiim



Cetak halaman ini dalam bentuk PDFCetak halaman iniKirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
Oleh Ustadz Nabiel Al Musawwa
Rasulullah Saw bersabda, "Jika kalian mencintai saudaranya (sesama mu'min), maka hendaklah ia memberitahukan kepadanya."
TAKHRIJ HADITS

Hadits ini dikeluarkan oleh :

1. Abu Daud, kitab al-Adab, bab Ikhbarur Rajuli ar-Rajula bi Mahabbatihilahu;
2. Tirmidzi, kitab az-Zuhdu, bab Ma Ja'a fi I'lamil Hubbi;
3. Di-shahih-kan oleh Syaikh Albani dlm ash-Shahihah (417, 2515)

KANDUNGAN HADITS

Sebuah sistem yang sempurna aspeknya dan diturunkan oleh Yang Maha Sempurna pastilah tidak akan meninggalkan berbagai sisi, melainkan ia memberikan pedoman serta arahan bagi penganutnya. Demikianlah Islam sebagai sistem agama juga negara, politik dan ekonomi, dzikir dan aqidah, sosial dan seni, pengetahuan dan militer telah mengatur berbagai sisi yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh ummatnya walaupun kerap kali dianggap sepele, dan diantara sisi yang sering diremehkan itu adalah masalah tahni'ah (ucapan selamat) dalam kehidupan bermasyarakat.

Tahni'ah adalah bagian dari kehidupan berteman dan etika dalam bermasyarakat, oleh sebab itu Islam tidak mengabaikan hal ini dalam aturannya yang sempurna. Nabi Muhammad Saw mengajarkan kepada kita agar jika kita menyenangi perbuatan seseorang maka jangan segan-segan untuk menyampaikan kepadanya, sehingga yang bersangkutan dapat mensyukuri kelebihan yang dimilikinya dan merespon perhatian dari saudaranya. Dan orang yang paling tinggi derajatnya disisi Allah Swt adalah orang yang paling tinggi perhatiannya kepada saudaranya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw "Dua orang yang saling mencintai karena Alloh Swt, maka yang paling tinggi diantara keduanya adalah yang paling kuat cintanya kepada temannya[1]."

Dan kebiasaan memberikan ucapan selamat ini (sepanjang tidak menyalahi aturan syariat) merupakan tradisi yang sangat mulia (shifat al-'ulya) yang dicontohkan oleh Allah Swt sendiri, simaklah bagaimana Alloh Swt senantiasa memberikan ucapan selamat kepada para hamba-Nya di dalam al-Qur'an. Ia memberikan ucapan selamat kepada hamba-Nya yang taat beribadah kepada-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya : "Rabb mereka memberi ucapan selamat kepada mereka dengan rahmat, keridhaan dan jannah-Nya, dan mereka mendapatkan di dalamnya kesenangan yang abadi." (Qur'an Surat at-Taubah, 9:21).

Demikian pula Ia memberikan ucapan selamat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang jujur dan selalu mengambil yang terbaik, sebagaimana dalam firman-Nya : "Dan oleh sebab itu sampaikanlah ucapan selamat kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik diantaranya." (Qur'an Surat az-Zumar, 39:17-18).

Kebalikan dari hal ini, maka Islam pun melarang kita untuk memperlihatkan kegembiraan atas kesusahan orang lain apalagi jika kemudian menyebar-nyebarkan keburukan yang dialami oleh saudaranya tersebut kepada orang lain. Kepada mereka yang berbuat demikian, Allah Swt mengancam dengan azab yang pedih (artinya hal tersebut merupakan perbuatan dosa besar), sebagaimana firman-Nya dalam al-Qur'an : "Sesungguhnya orang-orang yang suka agar perbuatan keji itu tersiar di kalangan orang beriman, maka bagi mereka azab yang pedih di dunia dan akhirat." (Qur'an Surat an-Nur, 24:19)

Ucapan selamat inipun berlaku bagi non-muslim, artinya kita dibolehkan bergembira dan mengucapkan selamat atas kegembiraan yang diraih oleh kenalan ataupun kolega yang non-muslim (dzimmi), sepanjang tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan ibadah (seperti ucapan selamat untuk hari keagamaan tertentu misalnya), karena dalam masalah aqidah dan ibadah maka bukanlah termasuk hal-hal yang masuk dalam wilayah bolehnya ditoleransi. Pembolehan pengucapan selamat dalam selain masalah aqidah dan ibadah ini didasarkan pada sunnah para sahabat radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Seandainya Fir'aun berkata kepadaku : Semoga Tuhan memberikan kebaikan atasmu, maka akan saya jawab: Dan juga atasmu. Tetapi Fir'aun telah mati[2]. Dibolehkan juga berdoa untuk orang kafir (dzimmi) sepanjang bukan doa yang berkaitan dengan keselamatan, rahmat dan barakah Alloh Swt (atau yang semisal dengan itu). Artinya seperti doa agar ia diberi hidayah, dipanjangkan umur dan diberikan kesehatan dan lain sebagainya. Sebagaimana dalam atsar sahabat berikut ini : Dari Uqbah bin Amir al-Juhani bahwa ia melewati seorang yang penampilannya seperti muslim, maka iapun mengucapkan salam dan dijawab oleh orang itu. Maka seorang anak tiba-tiba berkata kepadanya : Ia itu orang Nasrani! Maka Uqbah menghampirinya kembali lalu berkata : Sesungguhnya rahmat dan barakah Allah Swt hanyalah bagi orang-orang mu'min. Tetapi semoga Allah Swt memanjangkan hidupmu dan membuat harta dan anakmu menjadi banyak [3].

Wala taj'al fi qulubina ghillan lilladzina amanu...

[1] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, 423/544 dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (450).

[2] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul-Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani dalam ash-Shahihah (2/329).

[3] Hadist Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad, dan di-shahih-kan oleh Albani  (al-Irwa 1274).

Dan dia (Albani) berkata : Aku katakan atsar dari sahabat yang mulia ini menunjukkan bolehnya berdoa untuk panjang umur, sekalipun untuk orang kafir, apalagi untuk orang muslim tentu lebih utama. Tapi harus diperhatikan bahwa orang kafir itu haruslah bukan musuh umat Islam, dan karenanya berlaku juga ta'ziyyah kepada mereka, berdasarkan hal yang terkandung dalam atsar ini, maka ambillah faidah (hukum) ini.

Senin, 09 Januari 2012

Cinta kepada Nabi adalah Parameter Keimanan


Bismillahirrohmaanirrahiim


Cetak halaman ini dalam bentuk PDFCetak halaman iniKirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
Oleh: Ust. M. Aminullah
ImageBeberapa hari belakangan ini kasus pemuatan kartun Nabi Muhammad saw pada beberapa media di Barat menjadi sorotan dunia. Awalnya sebuah harian Jyllands-Posten di Denmark. Kemudian harian-harian di Spanyol, Perancis, dan Jerman pun mempublikasikannya. Saat ini protes keras meluas dari kaum muslimin dari Denmark sendiri, dari muslimin di negera-negera Barat dan Timur Tengah. Sebagaimana dilansir kantor berita Antara, Sekjen PBB menyampaikan kritiknya atas kasus ini, "Adalah penting untuk mengatasi kesalahpahaman dan rasa dendam di antara masyarakat yang berbeda keyakinan dan tradisi budaya melalui dialog damai dan saling menghormati."
Di negara-negara Timur Tengah, reaksi yang terjadi bukan hanya sebatas protes akan tetapi meningkat menjadi aksi boikot pada produk-produk Denmark. Beberapa negara juga menarik duta besarnya dari Denmark sebagai aksi diplomatik yang keras. Agaknya reaksi-rekasi keras ini membuat pemerintah Denmark yang tadinya keras kepala tidak mau menyatakan permintaan maaf kepada umat Islam, akhirnya menyampaikan maafnya.
Penggambaran makhluk hidup sendiri mendapatkan perhatian penting dalam Islam. Untuk tujuan pemurnian tauhid, kebanyakan ulama menyatakan ketidakbolehan atau haramnya menggambarkan sosok manusia dan hewan, dengan beberapa pengecualian, misalnya untuk keperluan pendidikan. Sejarah menunjukkan betapa banyaknya manusia tergelincir pada penyembahan patung dan berhala, ketika mereka terjebak pada kekaguman yang melampaui batas kepada tokoh-tokoh yang dibuat gambar atau patungnya. Kita tidak akan menyoroti masalah ini lebih jauh. Pembaca dapat merujuk kajian-kajian fiqh dalam hal ini.
Dalam kasus penggambaran kartun Nabi yang sedang kita bicarakan ada sisi lain yang penting, yaitu pelecehan terhadap pribadi Nabi. Nabi Muhammad digambarkan bersorban berbentuk bom atau dinamit dan banyak lagi penggambaran beliau yang tidak senonoh. Bagi muslim yang menghayati dan memahami benar perjuangan Rasulullah saw pastilah ada rasa sakit hati luar biasa mendapatkan beliau dihina. Bagaimana tidak, beliau adalah sosok yang kecintaannya kepada umat manusia begitu luar biasa, mengajak manusia ke jalan yang benar dalam menjalani kehidupan untuk kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat. Allah swt mengutus beliau kepada seluruh manusia adalah sebagai wujud kasih sayang (QS al Anbiya:107).
Beliau mengalami berbagai intimidasi yang keras dari kalangan kafir Quraisy, diusir dari negerinya dan bahkan diperangi, tapi itu semua tidak melunturkan kasih sayangnya untuk merangkul mereka ke dalam ajaran Islam dan memaafkan mereka pada saat Futuh Makkah. Dalam keadaan hampir berputus asa karena penolakan dan permusuhan kaum Quraisy di Makkah, beliau dengan penuh harap berda'wah ke Thaif. Di sana beliau malah disambut dengan lemparan-lemparan batu yang membuat beliau terluka cukup parah. Pada saat malaikat menawarkan untuk menimpakan bukit Thaif kepada para pendurhaka itu, beliau menjawab," Semoga Allah mengampuni mereka. Bila hidayah tidak turun kepada mereka, mungkin hidayah akan turun pada anak cucu mereka." Masih banyak kisah kehidupan Rasulullah dalam berda'wah yang menjelaskan betapa beliau amat mencintai umat manusia, amat bersedih dengan kesesatan mereka dalam kehidupan. Beliau amat menginginkan manusia memahami dan meyakini nilai-nilai iman. Untuk itu beliau ajak manusia dengan penuh hikmah ke dalam Islam. Karenanya penggambaran Nabi, apalagi dalam bentuk karikatur, sebagai sosok yang bengis dan teroris berbom sungguh sangat jauh dari keadaan pribadi beliau.
Di balik pelecehan terhadap Nabi Muhammad ini umat Islam kembali disentuh instrumen akal dan rasanya untuk berkaca kepada diri sendiri, sejauh manakah keimanan mereka kepada Nabi. Keimanan kepada Nabi ini menghajatkan rasa cinta. Rasa cinta ini hadir dari pengenalan mendalam akan kepribadian dan kerja tiada lelah beliau untuk da'wah. Beliau amat belas kasihan kepada orang-orang beriman (QS at Taubah:128). Bagi orang beriman hadirnya beliau mengusung risalah da'wah adalah kenikmatan dan karunia yang amat besar dari Allah, sebab beliau mengajarkan nilai-nilai kebenaran al Quran, mensucikan jiwa mereka dan menghiasi mereka dengan akhlak terpuji serta membuat mereka mengenal berbagai aturan kehidupan yang indah dan lurus (QS Ali Imran:164).
Orang beriman menghayati dan memahami bahwa beliau adalah teladan utama, karena memiliki akhlak amat mulia, sebagaimana dipersaksikan Allah:" Dan sungguh engkau (Muhammad) memiliki akhlak yang agung. " (QS al Qalam:4). Beliau senantiasa melalui detik-detik kehidupannya dalam dzikir kepada Allah. Peribadahannya di malam hari tiada tandingannya, hingga dikabarkan kaki beliau pernah bengkak karena begitu lamanya beliau berdiri dalam sholat. Jika tidak dalam keadaan berdzikir secara lisan, maka beliau pasti tengah memikirkan cara-cara terbaik dalam mengembangkan da'wah. Tiada hari beliau lewatkan kecuali memberikan kebaikan kepada orang lain. Beliau amat ramah, pemurah, rendah hati dan penuh perhatian membuat orang-orang amat senang berada di dekatnya. Beliau amat pemberani dalam kebenaran serta amat penyabar dalam menghadapi berbagai hambatan dan tantangan da'wah. Ini membuat orang-orang di sekitar beliau merasa aman dan bersemangat untuk berda'wah. Beliau mengajarkan apa arti sukses hakiki kehidupan di dunia dan beliau menjanjikan kebahagiaan amat besar di akhirat kelak bagi mereka yang berjuang untuk da'wah Islam. Ajaran-ajaran ini menjadi energi abadi bagi siapapun yang melangkahkan kaki mengikuti jejak beliau dalam berda'wah mengusung risalah Ilahi.
Pengenalan yang mendalam terhadap Nabi Muhammad dan misi yang beliau ajarkan akan melahirkan cinta mendalam kepada beliau. Dan ini akan menjadi pintu gerbang seorang muslim merasakan manisnya keimanan, sebab ketika kecintaan mereka kepada Allah dan RasulNya melebihi kecintaan kepada apapun, mereka akan merasakan halawatul iman (manisnya iman). Inilah hikmah yang dapat dipetik dari ayat," Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. " (QS at Taubah:24).
Allah swt selalu menghendaki kebaikan kepada umat Islam. Kejadian pelecehan terhadap Nabi Muhammad di Denmark dan beberapa negara lain seolah menjadi teguran bagi umat Islam untuk kembali menyegarkan kecintaan mereka kepada Nabi. Proses menuju puncak kecintaan terhadap Nabi memang mesti beriringan dengan pembelaan dan dukungan pada misi yang dibawa Nabi serta mengikuti ajaran al Quran. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS al A'raf:157).
Ingatkah kita akan kisah seorang sahabat Khabab bin al-Irts ra tatkala dia akan dihukum mati oleh orang kafir Quraisy? Orang Quraisy bertanya kepadanya, apakah dia mau kalau Muhammad menggantikannya sebagai terhukum dan ia sendiri bebas. Khabab menjawab tegas, bahwa ia bahkan tidak akan rela kalaupun Rasulullah kakinya tertusuk duri sekalipun. Jiwanya ia rela korbankan, bahkan agar kaki Rasulullah tidak tertusuk duri! Kisah Khabab ini hanyalah satu peristiwa saja yang menggambarkan kepada kita, bagaimana hebatnya para sahabat memuliakan dan menolong Nabi Muhammad saw.
Mengingat pentingnya masalah kecintaan terhadap Rasul ini, layaklah kalau Forum Persatuan Ulama Islam Internasional yang berada di bawah kepemimpinan DR. Yusuf Qardhawi, mengajak seluruh khatib, para ulama, para da'i di seluruh dunia, untuk menjadikan hari ini Jum'at 4 Muharram 1427 H yang bertepatan dengan 3 Februari 2006 lalu, sebagai "Hari Mencintai Rasul" dan menjadi solidaritas terhadap penghinaan Rasulullah saw oleh sejumlah media massa. Kemudian sebagai negara dengan mayoritas penduduknya umat Islam, wajar pulalah kalau pemerintah Indonesia lewat Departemen Luar Negeri meminta klarifikasi diplomatik dengan tegas terhadap negara-negara yang secara sengaja menyebarkan kartun pelecehan Nabi itu. Bagi negeri-negeri muslim, momentum ini mestinya menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat diri, membangun ' izzah (kemuliaan) umat Islam sedunia.
Sebagai catatan akhir, sebetulnya proses mencintai Rasul sendiri mesti menjadi hari-hari kehidupan umat Islam, sebab proses mencintai beliau adalah proses menuju kesempurnaan iman dan menjadi parameter keimanan itu sendiri. Bahkan seorang sahabat besar seperti Umar bin Khattab ra pernah berkata di hadapan Nabi, "Ya Rasulullah, sungguh engkau aku cintai daripada apapun juga, kecuali kecintaanku kepada diriku sendiri." Maka Nabi Muhammad mengatakan, "Tidak beriman salah satu dari kalian, sampai mencintai aku lebih daripada mencintai dirinya sendiri." Umar pun lekas menanggapi, "Maka engkau sekarang Demi Allah- lebih aku cintai daripada diriku sendiri!" Nabi pun berkata, "Sekarang, hai Umar." (HR Imam Bukhari). Maksudnya baru dengan kondisi tarakhir itulah Umar sampai pada kesempurnaan iman.
Wa Allahu a'lamu bish shawwab.

(Sumber : Ust. Adi Junjunan Mustafa, Chiba-Jepang, 7 Februari 2006) 

Minggu, 08 Januari 2012

Dakwah



Bismillahirrohmaanirrahiim


Cetak halaman ini dalam bentuk PDFCetak halaman iniKirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
Tugas seorang muslim adalah berdakwah, dakwah harus mempunyai kekhususan/ciri-ciri sebagai berikut:
1. Dakwah seharusnya :
a. Berorientasi Robbani, berorientasi kepada Allah SWT
b. Ada taklim dan tadarrus, yang dimaksud adalah pembelajaran tentang Agama Islam
c. Bertujuan untuk penguatan Aqidah
d. Bertujuan untuk mewarnai akhlak Islamiyah
e. Bertujuan untuk meningkatkan Ukhuwah Islamiyah
f. Harus Mujahadah, artinya berjuang di jalan Allah SWT 
2. Islamiyah dan Jamaiyah, artinya dakwah harus berisi dakwah Islam yang mengajak pada persatuan umat dan bukan pada perpecahan. Setiap individu harus meningkatkan pemahaman tentang agamanya, dan kemudian diharuskan untuk berjamaah.
3. Dakwah Islam harus Syamil/sempurna, dakwah harus mencakup seluruh sisi kehidupan manusia, mulai dari tingkat individu sampai dengan tingkat kemasyarakatan.
4. Dakwah harus memikirkan bagaimana Islam bisa diterima oleh semua manusia, sebab Islam adalah rahmat bagi seluruh umat manusia.
5. Dakwah harus bersifat kontemporer (tidak taklid), tetapi tetap harus bersumber pada Al qur’an dan hadist.
6. Mahaliyah dan Alamiyah, artinya dakwah bersifat lokal dan internasional (global), Islam harus dikembangkan baik dalam skala lokal dimana tempat kita berada maupun dalam skala global sebab Islam bersifat universal.
7. Dakwah harus dilakukan dengan pendekatan ilmiah, dengan menunjukkan bukti-bukti yang nyata dan disampaikan dengan keterangan yang jelas.
8. Para pengemban dakwah harus mempunyai benteng yang kuat, yaitu dengan cara :
a. Mengetahui asal usul Islam (mabda/idiologi)
b. Mempunyai pemahaman dan pemikiran yang luas
c. Mengenal metode-metode berdakwah
d. Mempunyai kemauan dan kehendak yang kuat
e. Dakwah harus terus bergerak
f. Dakwah membutuhkan pengorbanan, baik waktu, tenaga, pikiran dan harta 
9. Dakwah harus menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan perubahan itu akan menciptakan pribadi-pribadi yang Islami (syaksiyah Islamiah)
Kesimpulan :
Pengemban dakwah harus mempersiapkan diri serta membekali diri sebelum terjun ke medan dakwah, persiapan tersebut meliputi :
1. Persiapan fikrah/pemikiran
2. Persiapan rohani.
3. Persiapan Fisik (BPK) 
Khotbah Jum’at di Masjid Al-Hijrah Tempe oleh Ustad Mahfud Sidik, 6 April 2007
Misi hidup didunia ini ada 2 :
1. Ibadah kepada Allah SWT, ibadah yang benar adalah :
a. Ibadah yang dilandasi ke Islaman.
b. Ibadah yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT
c. Ibadah yang total dalam semua aspek kehidupan, yaitu semua aktifitas hidup ini ditujukan untuk mencari ridlo Allah SWT 
2. Sebagai Khalifah di dunia, hidup di dunia ini tidak hanya cukup menjadi Muslim yang baik saja tetapi juga bertugas sebagai khalifah. Adapun bagaimana menjalankan misi sebagai khalifah di dunia ini adalah dengan cara :
a. Menyeru kepada umat untuk menuju ke jalan Allah SWT dengan jalan dakwah. Dakwah adalah jalan hidup bagi semua Muslim.
b. Memanfaatkan potensi-potensi yang ada di dunia ini untuk memakmurkan kehidupan. Indikasi-indikasi kehidupan yang makmur antara lain dapat dilihat dari terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan hidup dalam bidang kekayaan, pendidikan dan kesehatan.
c. Mengimplementasikan hukum-hukum Islam di masyarakat, baik dari skala individual sampai dengan tingkat masyarakat dan kenegaraan. Baik mulai dari masalah haid sampai dengan bagaimana mengimplemantasikan hukum-hukum kenegaraan.
d. Ikut serta menegakkan kepemimpinan diantara Umat, mulai dari kepemimpinan dalam keluarga sampai dengan kepemimpinan dalam masyarakat/negara.
Dua misi hidup ini saling berkaitan satu sama lainnya. Hanya orang-orang yang sukses menjalankan misi hidup pertama dapat menjalankan/mengemban misi hidup sebagai khalifah di dunia. (BPK)
Pengajian Sabtu Malam di Masjid Al-Hijrah Tempe Oleh Ustad Nurhasan Zaidi, 18 April 2007
Tersebarnya Islam sampai ke Indonesia tidak lepas dari peran dakwah para wali yang selain berdagang juga melakukan aktifitas dakwah. Demikian juga kita yang tinggal di Negara Australia diharapkan bukan hanya sebagai Muslim yang baik saja tetapi juga sebagai da’i yang menyerukan kepada Islam sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT di dalam Surat Ali Imran Ayat 3 yang berbunyi : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." Kesalehan individu dan keluarga adalah target individu, tetapi seharusnya yang lebih penting adalah bagaimana dakwah ke masyarakat, untuk itulah kita seharusnya berkaca kepada para wali yang telah menyebarkan Islam sampai ke Indonesia.
Sistem ke khilafahan telah terbukti berjaya lebih dari 13 abad, sedangkan sistem kapitalis yang sedang berjaya saat ini belum begitu lama tetapi sudah menunjukkan tanda-tanda kemunduran dan takut akan perkembangan Islam belakangan ini. Kebangkitan Islam tergantung kepada manusia-manusia unggul (investasi manusia), sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad beserta para sahabatnya. Semangat dakwah kaum Muslim seperti yang dicontohkan oleh para sahabat dan penerusnya dalam naungan Khilafah menyebabkan Islam menyebar ke seluruh pelosok dunia. Semangat yang ditunjukkan adalah kesadaran bahwa Muslim dan Da’i adalah 2 sisi yang selalu berkaitan. Proses kebangkitan umat Islam tegantung kepada 3 unsur yaitu : Manusia-manusia unggul, tanah dan waktu.
Di Indonesia selama 8 tahun terakhir ini sejak bergulirnya reformasi terjadi euphoria politik. Terjadi proses pendewasaan politik di Indonesia setelah era orde baru, hanya masalah yang terjadi di Indonesia adalah pada Sumber Daya Manusia (SDM). Diharapkan dengan dakwah ke depan Indonesia bergerak ke arah kebangkitan yang berdasarkan Islam. Dakwah bukan merupakan beban personal, tetapi merupakan beban kolektif. Untuk itu dakwah yang berpusat di Masjid, tidak hanya menjadikan Masjid sebagai tempat shalat saja, tetapi diharapkan juga sebagai sarana strategis untuk pendidikan, dakwah, dan politik. (BPK)

Sabtu, 07 Januari 2012

Musyawarah harian masjid Alghozali 7 januari 2012

membahas persiapan khuruj 10 hari liburan ini,
siap iman dan siap mal,
semangat,,,!!!

Muqaddimah

Assalamualaikum
wahai para pembantu Allah,


Bismillahirrohmaanirrahiim
Kewajiban DakwahCetak halaman ini dalam bentuk PDFCetak halaman iniKirim halaman ini kepada rekan Anda via E-mail
"Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali Imran [3] : 104).
"Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kalian beriman kepada Allah." (QS. Ali Imran [3] : 110).
Cukup banyak ayat-ayat yang menyerukan kepada kita kewajiban dakwah, dua diantaranya adalah ayat-ayat di atas. Seruan tersebut menegaskan bahwa Setiap muslim adalah Da'i, yaitu seseorang yang menyampaikan pesan-pesan tentang ajakan menuju jalan Allah (amar ma'ruf nahi munkar) kepada umat. Sebab, setiap muslim berkewajiban untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. Sayang sekali pemahaman kewajiban dakwah pada umumnya dipahami hanya untuk orang tertentu saja, yakni para ustad atau kiai, sehingga seringkali kita jumpai ungkapan seseorang yang apabila melihat kemaksiatan berkata : "Itu bukan urusan saya, tapi urusan ustad atau kiai." Padahal merujuk ayat di atas jelas bahwa dakwah merupakan kewajiban bagi setiap orang. Hal ini ditegaskan pula dalam hadits. Dari Abu Said Al-Khudri ra berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda, "Barang siapa melihat kemunkaran dilakukan dihadapannya maka hendaklah ia mencegah dengan tangannya, jika tidak mampu cegahlah dengan lidahnya, jika tidak mampu maka hendaklah dia merasa benci di dalam hatinya, dan ini selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim).
Dakwah tidak mengenal tempat dan sasaran tertentu, dakwah harus terus dilakukan baik di negeri-negeri yang mayoritas muslim, maupun di negara-negara yang mayoritas non muslim seperti Australia. Dakwah juga ditujukan kepada seluruh manusia baik muslim maupun non muslim, dakwah kepada non muslim bertujuan untuk mengajak masuk kepada Islam, sedangkan dakwah kepada muslim bertujuan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam. Jumlah populasi muslim yang terus meningkat, serta kesadaran untuk menjalankan ajaran Islam di Australia adalah disebabkan adanya orang-orang yang senantiasa sadar akan kewajiban dakwah dan selalu melaksanakan aktifitas dakwah dari waktu ke waktu.
Dari hal di atas, maka sudah saatnya kita ikut serta berperan aktif dalam segala bentuk aktifitas dakwah. Tidak ada dalih bahwa "saya belum sempurna," ataupun alasan "saya masih belajar." Karena menurut Imam Said bin Jubair, "Jika seseorang tidak mau mengajak kepada yang ma'ruf dan mencegah kemunkaran sehingga keadaan dirinya sempurna, maka tidak akan ada seorangpun yang akan mengajak kepada yang ma'ruf dan mencegah kemunkaran." Iman Malik mendukung pendapat Imam Said bin Jubair ini, dan beliau sendiri menambahkan, "Dan siapakah diantara kita yang lengkap dan sempurna?"
Rasulullah SAW melaksanakan tugas dakwah tidak menunggu seluruh wahyu selesai. Rasulullah SAW juga menyuruh seorang sahabat yang baru bersyahadat dan mendapatkan pengajaran tentang syahadat untuk mengajarkan kalimat syahadat yang telah dipelajarinya kepada orang disekitarnya. Begitu juga dengan diri kita dituntut untuk senantiasa menyampaikan apa yang telah kita pahami dan kita laksanakan, serta senantiasa berusaha memperbaiki diri dari waktu ke waktu.